| By Khalisah Khalidpnlh,
on Saturday, 15 March 2008
|
Views : 1744 |
Published in : Kandidat DN, Artikel |
Oleh : Khalisah Khalid*
Hampir 28 tahun (hampir sama dengan usia saya sendiri yang belum lagi genap kepala tiga), WALHI hadir ditengah-tengah kita. Mulai dari aktifisnya, masyarakat korban hingga publik umum yang masih miskin dengan akses informasi khususnya terkait dengan hak atas lingkungannya. Dengan segala dinamikanya, WALHI telah mampu mempengaruhi kebijakan pembangunan yang sampai hari ini juga semakin mengakumulasi krisis dari hari ke hari.
Meskipun beberapa tahun belakangan ini, kita kembali merefleksikan gerakan yang dibangun oleh WALHI, bahwa gerakan kita ternyata juga hampir menduplikasi pola-pola yang dibangun oleh negara, dalam konteks merespon krisis. Maju-mundur seperti tarian poco-poco (begitu Megawati mengkritik kebijakan SBY-JK), dan begitu juga ternyata hasil temuan evaluator eksternal WALHI, bahwa gerakan advokasi WALHI hitungannya selalu 1-2, 1-2, tidak 1-2-3-4.
Kadang kala gerakan ini mengalami kegamangan, karena ternyata WALHI juga masih lemah membaca krisis yang dialami oleh rakyat, khususnya kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak. Sering kali, kita tergagap-gagap ketika merespon krisis dan advokasi kita tidak berlandaskan pada bacaan krisis yang baik, karena itulah saya mencoba mengajarkan kesabaran untuk mulai melakukan reset, analisis, studi dan kajian terhadap berbagai crisis yang dialami oleh rakyat seperti study terkait dengan daya rusak lingkungan dan sumber daya alam terhadap perempuan dengan menggunakan pisau analisis feminis, dan krisis yang dialami oleh pulau Jawa yang sudah mengalami kebangkrutan baik dilihat dari keselamatan, produktifitas, kesejahteraan rakyat dan juga pelayanan alamnya.
Kritik inilah yang merangsang saya, sebagai salah satu dari sedikit kader perempuan yang selama ini berjibaku dengan WALHI, untuk bisa berbuat lebih banyak lagi terhadap arah gerakan WALHI kedepan. Melihat dimana “medan” pertempuran WALHI yang seharusnya dimainkan, ditengah ancaman tingkat eksploitasi SDA yang semakin tinggi seiring dengan meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh pengurus negara kepada rakyat, khususnya kepada kelompok rentan antara lain perempuan, masyarakat adat dan kelompok miskin kota, serta krisis rakyat yang selalu menjadi konsumsi media sehari-hari.
gWebsite Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLHX -rYogyakarta -aSang Perempuan; s ALHI Harus BergerakjMajuntuk Rakyat Id 2001 08 26 Indek Berita Php d m Gymnastic
dWebsite Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLHX -rYogyakarta -aSang Perempuan; s ALHI Harus BergerakjMajuntuk Rakyat Id 2001 08 26 Indek Berita Php t r Nude |