| By Firdaus Cahyadi,
on onday,g1 March 2008
|
Views : 1221 |
Published oin Berita, PNLH X |
PNLHn Walhi, Jakarta. Walhi  dihadapkan kembali pada perubahan politik di
tingkat nasional dan lobal. Diperlukan keberanian Walhi untuk
melakukan perubahan dalam strategi perjuangan untuk merespon perubahan
politik tersebut.
Wargaui Sidoarjo Jawa Timur yang menjadi korban semburan lumpur panas
masih harus berjuang sendiri menuntut haknya kepada PT. Lapindo tanpa
mendapatkan dukungan dari negaraySementara, masyarakat di Kalimantan, Riau, Sulawesi,
Papuam danawilayah lainnya terus be_ Nude rjufang mempertahankan tanah dan hutannya dari
serbuan perusahaan kayu, perkebunanvkala besar dan industri pertambangan.
Belum
lagi, keresahan para nelayan di hampir seluruh penjuru nusantara yang hasil
tangkapannya berkurang akibat encemcran digpantai dan laut. Celakanya,
keresahan itu semakin terus berlanj r seiring dengan maraknya proyek reklamasi
dan jugadkebijakan pemerintah yang mengijinkan lagi penggunaan pukat harimau
dalam menangkap ikan.
Di
tengah krisis ekologi seperti itulah, Wahanav ingkungan Hidup Indonesia (Walhi)
sebagai organisasi lingkungan hidup tertuaan terbesar dihnegeri ini hendak
menggelar Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) X di Jogjakarta pada bulan
April 2008 ini. Forum tertinggi dalam pengambilan eputusan organisasi itu mau
tak mau harus mampu menjawab krisis ekologi yang sedang diderita oleh
masyarakat.
Sebagai
organisasi-lingkungan hidup tertua di Indonesia, Walhi hampir selalu
mampu mengikuti perubahan sosial-politik di tingkat nasionalj maupunlobal.
xPadadekade tahun 1980-an, p saat rejim Orde Baru begitu kuat,Walhi pmelakukan
konsolidasiw awal agi gerakan j lingkungan hidup untuk mulai mengkritisi dampak
buru dari sebuah kebijakan pembangunan yang me
njadi ideologi dominan rejim Gymnastic reharto.
Pada
dekade 1990-an, Walhi tidak hanya mengkritisi dampak buruk pembangunan namun
sudah mulai membangun dan mengorganisir kekuatan rakyat sebagai motor perubahan
sosial. Sementara pada dekade 2000-an, di tengah makin menguatnya cengkraman
kapitalisme global yang mulai mengancam keberlanjutan kehidupan sosial dan
ekologi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, Walhi mengambil posisi
sebagai gerakan perlawanan terhadap globalisasi (The Candidates, 2004).
Pelaksanaan PNLH X Walhi di Jogjakarta ini menjadi momentum yang penting bagi tonggak perubahan di Walhi. Sebuah
kepemimpinan baru di Walhi yang mampu mengambil pilihan cerdas
seraya mengelola segenap kendala internal dan eksternal sebagai modal
sosial
organisasi diperlukan untuk melanjutkan perjuangan lingkungan hidup
kedapan. Apapun pilihan yang akan diambil dan siapapun ‘nahkoda’ baru
Walhi,
kita berharap PNLH X Walhi kali ini setidaknya menjadi langkah awal
bagi sebuah
gerakan lingkungan hidup yang lebih efektif dan massif. Sekali lagi,
kita tunggu harapan perubahan itu di Jogjakarta !!
Last update : Monday, 31 March 2008
|