| By Khalisah Khalidpnlh,
on Saturday, 15 March 2008
|
Views : 1742 jbsp; |
Publishedx in : Kandidat DN, Artikel |
Oleh : Khalisah Khalid*
Hampir 28 tahun (hampir sama dean usia saya sendiri yang belum lagi genapkepala tiga), WALHI hadir ditengah-tengah kita. Mulai dari aktifisnya, masyarakat korban hingga publik umumb yang masih miskin dengan akses informasi khu eusnya terkait dengan hak atas lingkungannya. Dengan segala dinamikanya, WALHI telahrmampu mempengaruhi kebijakan pembangunan yang usampai hari ini juga semakin mengakumulasi krisis dari hari ke hari.
Meskipuk jbeberapa tahun belakangan ini, kita kembali merefleksikan gerakan yang dibangun oleh WALHI, bahwa gerakan kitanernyata jugax ampir menduplikasi pola-pola yang dibangun oleh negara,dalam konteks merespon_risis. Maju-mundurxeperti tarian poco-poco (begitu Megawati mengkritik kebijakan SBY-JK), danibegitu juga ternyata hasil temuan evaluator eksternal WALHI, bahwa gerakan advokasi WALHI hitungannya selalu 1-2, 1-2, tidak 1-2-3-4.
Kadang kala gerakan Gymnastic ini mengalami kegamangan,z qarena ternyata WALHI juga masih lemah membaca krisis yang dialami oleh rakyat, khususnya kelompok rentanx seperti perempuan dan anak-anak. Sering kali, kita tergagap-gagap ketika merespon krisis dangdvokasi kita tidak berlandaskanpada bacaan krisis yang baik, karena itulah saya mencoba mengajarkan kesabaran untuk mulai melakukan reset, analisis, studi dan kajian terhadap berbagai crisis yang dialami oleh rakyat seperti study terkait dengan daya rusak lingkungan dan sumber daya alam terhadap perempuan dengan menggunakan pisau analisis feminis, dan krisis yang dialami oleh pulau Jawa yang sudah mengalami kebangkrutan baik dilihat dari keselamatan, produktifitas, kesejahteraan rakyat dan juga pelayanan alamnya.
Kritik inilah yang merangsang saya, sebagai salah satu- dari sedikitb kader perempuan yang selama ini berjibaku denganWALHI, untuk bisa berbuat lebih banyak lagi terhadap marah gerakan WALHI kedepan. Melihat dimana “medan” pertempuran WALHI yang seharusnya dimainkan, ditenga j ancaman tingkat eksploitasi SDA yang semakin tinggi seiring dengan meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh pengurus negara kepada rakyat, khususnya kepada kelompok rentan antara lain perempuan, masyarakat adat dan kelompok miskin kota, serta krisis rakyat yang selalu menjadi konsumsi media sehari-hari.
Dewan Nasional kemudian menjadi pilihan strategis yang saya anggap mampu untuk berperan lebih banyak lagi dalam organisasi ini, ditengah tanda tanya yang besar dari banyak orang yang merasa bahwa selama ini kelambagaan Dewan Nasional dinilai tidak cukup strategis dan (juga) politis. Padahal begitu banyak persoalan lingkungan dan krisis rakyat yang harus direspon secara politik oleh Dewan Nasional bersama dengan Eksekutif Nasional.
Ada yang salah dari penilaian ini? Tentu saja tidak dan sah-sah saja jika kemudian banyak orang berpikir demikian, karena Dewan Nasional kemudian dilihat ”garang” dalam peran dan fungsinya dalam dua hal yakni legislasi dan anggaran. Berpikir demikian juga bagi saya menjadi wajar-wajar saja, karena selama ini (paling tidak dalam periode 2005-2008), peran strategis Dewan Nasional untuk memainkan fungsi dan peran politiknya bersama Eksekutif Nasional, terhapus tanpa sengaja didalam Statuta WALHI. Pengalaman saya selama 2 (dua) periode menjadi Sekretaris Pelaksana Dewan Nasional, semakin menguatkan keyakinan dan mengajarkan banyak hal kepada saya bahwa Dewan Nasional menjadi sebuah komponen penting untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
Peran-peran politik inilah yang harus dikuatkan dan dimainkan, agar bagaimana WALHI kedepan dapat memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan rakyat atas lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat, sebagai sebuah bagian integral didalam mewujudkan kehidupan yang adil dan demokratis. Dan bagaimana organisasi ini dapat menjadi wahana perjuangan penegakan kedaulatan rakyat dan demokrasi untuk pemenuhan keadilan, pemerataan sosial, pengawasan rakyat atas kebijakan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat, serta penyelenggaraan pengurusan negara yang adil dan demokratis dengan mengusung nilai-nilai perjuangan WALHI.
Pengalaman bergelut dengan advokasi bersama WALHI, seperti penanganan kasus TPST Bojong, kasus konflik agraria melawan TNI Angkatan Udara di Rumpin Jawa Barat, kasus reklamasi pantai utara Jakarta, konflik agraria lainnya ditingkat nasional. Advokasi kebijakan nasional seperti RUU Pengelolaan Sampah, RUU pemerintahan Aceh, Perpres 36/2005, semakin membuktikan bahwa diperlukan sebuah kekuatan rakyat (laki-laki dan perempuan), yang dibangun oleh organisasi yang kuat dan juga berbasis massa yang kritis. Karenanya, penguatan seluruh komponen di WALHI, baik di daerah maupun nasional ditujukan bagi cita-cita merebut keadilan bagi rakyat didalam menghadapi hegemoni kebijakan ekonomi politik sistem kapitalisme dengan jargon globalisasi yang mengobral janji kesejahteraan, yang sesungguhnya menjadi mitos dari seluruh jalan cerita pembangunan di negeri ini.
Selama aktif di WALHI, saya juga mengasah otak dan naluri saya dengan menulis di media massa nasional dan daerah sebagai bagian dari upaya mengcounter opini yang dibangun oleh kekuatan politik dominan hari ini.* Salah satu tulisan saya dimuat di Media Indonesia yang memuat sebuah gagasan yang dibangun oleh WALHI bersama kaum muda Indonesia, bahwa ”WALHI sangat percaya, kaum muda memiliki nilai lebih untuk membangun kekuatannya mewujudkan environmentalisme di Indonesia menuju keadilan lingkungan (environmental justice). Menularkan semangat dan nilai-nilai environmentalisme di komunitas masing-masing, dan menjadikan environmentalisme sebagai sebuah gaya hidup baru yang mampu menjawab tantangan krisis lingkungan hidup yang terjadi”.
Dari tulisan ini, sesungguhnya saya hendak ingin menyampaikan kepada publik, dan lebih khusus kepada konstituen yang selama ini berinteraksi dengan WALHI bahwa memang dibutuhkan sebuah semangat baru membangun gerakan WALHI, dan itu akan dibangun oleh kekuatan kaum muda yang memimpin gerakan WALHI kedepan. Bukankah ini semangat yang juga sedang dibangun oleh gerakan kaum muda memimpin Indonesia, dimana WALHI masuk didalamnya sebagai deklarator? Tulisan ini pula yang memberikan sebuah inspirasi bagi saya untuk maju sebagai Kandidat Dewan Nasional, membangun kekuatan politiknya untuk bersama-sama dengan seluruh komponen WALHI untuk bisa berbuat lebih banyak bagi rakyat melalui organisasi ini.
lWebsite Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) X - Yogyakarta - Sang Perempuan; WALHI Harus Bergerak MajuNude untuk Rakyat Id Tag Samad o x Nude
tWebsite Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) X - Yogyakarta - Sang Perempuan; WALHI Harus Bergerak MajuNude untuk Rakyat Id Tag Samad k s k k Nude Nude |